GLOBAL VOICES IN BOROBUDUR.

Borobudur Links | Oktober 09, 2009 | 23.23 wib | Label: art and culture


Selasa, 13 Oktober 2009, jam 18.00 – 21.00 WIB.

Borobudurlinks/08/10-09. Ubud, Bali, INDONESIA—“Global Voices in Borobudur” akan menampilkan para penulis dari beberapa negara, termasuk penulis Indonesia, untuk membacakan karya-karya mereka di candi Budha termegah di dunia, Borobudur, tanggal 13 Oktober 2009. Ini merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan Ubud Writers and Readers Festival yang berlangsung di Ubud tanggal 7-11 Oktober 2009. Pembacaan karya akan diselenggarakan di pelataran kompleks hotel Manohara dengan candi Borobudur sebagai latar belakang. .
Penampilan para penulis di Borobudur ini merupakan kali pertama dimana Ubud Writers and Readers Festival memperluas penyelenggaraan hingga luar Bali. Borobudur terletak di Jawa Tengah, yang merupakan pulau tetangga Bali.


Tema Ubud Writers and Readers festival adalah suka duka (Solidarity and Compassion).
“Ini adalah sebuah loncatan dan sungguh menggairahkan kami mampu memperluas Ubud Writers and Readres Fesival hingga ke Borobudur ini,” kata Janet DeNeefe, pendiri festival ini. “Budha itu membawa spirit rasa belas kasih dan keharuan, selain itu kebadiannya mengajarkan dan memandu kita untuk mampu mengatasi persoalan-persoalan global dunia yang kita hadapi saat ini. Festival kami tahun ini bertema suka duka atau solidaritas dan simpati (Solidarity and Compassion), ini cocok sekali ketika kemudian dibuat acara puncak di Borobudur ini.”

PARA PENULIS YANG AKAN TAMPIL DALAM ACARA INI .

FATIMA BHUTTO,
wartawan dan penulis, asal Pakistan. Ayahnya adalah Murtaza Bhutto, beliau dibunuh polisi tahun 1996 di Karachi selama masa pemerintahan adik perempuannya, Benazir Bhutto masih berkuasa. Buku Fatima Bhutto yang ketiga adalah mengenai sejarah keluarga Bhutto. Buku ini akan diterbitkan di Inggris tahun 2010.

MICHELE CAHILL,
mengedit buku antologi puisi “Poetry Without Borders” (Picaro, 2008). Bukunya yang akan datang merupakan koleksi “Vishvarupa” yang bertema seputar dewa-dewa Hindu. Michelle pernah ke biara dan kuil di Thailand, Laos, India, Nepal dan Bali untuk berlatih joga dan meditasi vipassana.
TOM CHO,
Tinggal di Melbourne, Australia, Tom Cho adalah penulis buku fiksi berjudul Look Who’s Morphing, diterbitkan Giramondo, April 2009.
Selain menulis fiksi, Tom bekerja sebagai editor freelance. Ia pernah bekerja di berbagai lembaga dan organisasi di Australia, termasuk Footscray Community Arts Centre, Melbourne Fringe and National Young Writers’ Festival.
ANDREW MC MILLAN,
Andrew punya hubungan dekat dengan orang-orang di East Arnhem Land dan sebagai “bule” ia telah diterima dengan terbuka di rumah-rumah dan kamp-kamp di East Arnhem Land dan dipastikan bahwa bukunya mendapat persetujuan dari suku-suku yang tinggal di bagian dunia yang terpencil ini. Hubungan tersebut juga membuat dia mampu menulis buku yang merupakan bacaan wajib bagi siapa saja yang sedang mempelajari sejarah Aboriginal. Buku yang ditulisnya itu merupakan gabungan antara sejarah, laporan jurnalisme, dan kisah cintanya dengan orang-orang itu. Buku ini menerima mendapat sambutan sangat baik karena menceritakan tentang peperangan, kehilangan, perjuangan sosial-budaya dan pembaharuan yang menyentuh dan menggelorakan hati.
SOPHIE HACKFORD,
adalah akademikus, penulis dan konsultan dengan spesifikasi ketertarikan pada migrasi dan diaspora. Ia sekarang bekerja pada sekolah inovatif James Martin School of the 21st Century at the University of Oxford.
ANGELO R LACUESTA,
adalah pemenang The Palanca, Philippine Graphic dan NVM Gonzalez Awards untuk cerita pendeknya. Buku pertamanya “Life Before X and Other Stories” memenangkan The Madrigal-Gonzalez Best First Book Award dan The National Book Award tahun 2000. Buku keduanya White Elephants memenangkan The National Book Award tahun 2005. Ia baru saja menerbitkan buku ketiganya Flames and other stories dan sedang menuliskan novel pertamanya.

ANTONY LOEWENSTEIN’S,
adalah penulis buku laris tentang konflik Israel/Palestina. “My Israel Question” adalah bukunya yang masuk daftar buku terbaik dari NSW Premier’s Literary Award tahun 2007. Buku keduanya “The Blogging Revolution on the Internet in repressive regimes” dirilis tahun 2008. Ia adalah salah satu pendiri dari grup advokasi “Independent Australian Jewish Voices” yang didermakan ke Amnesty International Australia’s 2008 dimana lembaga ini berkampanye tentang penindasan orang Cina di internet dan olimpiade Bejing.
OMAR MUSA,
adalah pemenang sayembara puisi slam Australia, 2008. Ia sudah berenang dengan piranha dan buaya di Bolivia and pernah mengajar anak-anak Oborigin di daerah pedalaman Australia. Usianya 25 tahun, bersuara bariton, berdarah campuran Malaysia-Australian, Omar Musa adalah pengelana yang sudah menjelajah berbagai penjuru dunia dimana ia punya banyak kiisah untuk diceritakan. Ia adalah pemenang penghargaan the British Council’s Realise Your Dream award tahun 2007.
DYAH MERTA,
lahir di Ponorogo, 21 Juli 1978. Menulis sejumlah cerita pendek dan terkumpul dalam berbagai antologi, jurnal dan surat kabar. Cerita pendeknya pernah memenangi penghargaan dalam Lomba Cipta Cerpen Festival Kreatifitas Pemuda Depdiknas (2003), Lomba Cipta Cerpen Harian Umum Lampung Post (2004). Pada tahun 2003 penulis pernah diundang mengikuti Writing Program Majelis Sastra Asia Tenggara di Bogor. Pada tahun 2008 penulis diundang mengikuti Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali. Kurun tahun 2002-2004 penulis pernah terlibat aktif di Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Antologinya Yang Dibalut Lumut (Jakarta CWI, 2003), Jika Cinta (Senayan Abadi, 2004), Mencintaimu (Logung Pustaka, 2004), Sayap Jibril (Republika, 2005), Sex, Machine, and Love (AKY, 2005), Titian (Koekoesan, 2008), Lobakan (Koekoesan, 2009). Buku cerita pendeknya Hetaira (Orakel, terbit tahun 2005). Novel debutnya Peri Kecil di Sungai Nipah (Koekoesan, 2007) masuk Long list Khatulistiwa Literary Award 2008. Saat ini ia merampungkan riset untuk novel keduanya.
GUNAWAN MARYANTO,
Lahir di Jogjakarta, 10 April 1976. Sehari-hari bekerja sebagai sutradara dan penulis di Teater Garasi Jogjakarta. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (naskah lakon, ditulis bersama Andre Nur Latif dan Ugoran Prasad, Indonesiatera, 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, Insistpress2005), Galigi (kumpulan cerpen, Koekoesan, 2007), Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (kumpulan puisi, Omahsore, 2008) dan Usaha Menjadi Sakti (kumpulan cerpen, Omahsore, 2008). Pada tahun 2004 puisinya mendapat Anugerah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik kategori puisi. Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.


SOSIAWAN LEAK,
Lahir di Solo, 1967, lulusan Fisipol UNS, 1994. Telah menerbitkan 3 antologi puisi Umpatan (1995), Cermin Buram (1996), Dunia Bogambola (2007).
Selain menulis puisi, naskah drama dan esai sastra, Leak juga melakukan pembacaan puisi di berbagai kota, melakukan pementasan sekaligus menjadi sutradara drama, maupun menjadi narasumber pada temu sastra. Pada bulan Mei 2003, di Festival Puisi Internasional The Road di Bremen (Jerman), Leak membaca puisi & memberi workshop, sekaligus menjadi narasumber di Universitas Hamburg & Universitas Passau.
Bersama Martin Janskowski (Berlin, Jerman), melakukan Baca Puisi & Diskusi Membaca Indonesia (Juli 2006, bersama Dorothea Rosa Herliany) dan Membaca Kota-kota (November 2008). Tahun 2009, aktif membaca puisi/menjadi narasumber di berbagai event sastra nasional, seperti Konggres Sastra Indonesia di Kudus, Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, Revitalisasi Budaya Melayu, Pekan Kebudayaan Aceh 2009 dll.

TRIYANTO TRIWIKROMO,
adalah editor sastra Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif di Universitas Diponegoro. Selain menganggit puisi (terbit dwibahasa di Australia, Mud Purgatory, 2008), ia menulis kumpulan cerpen Rezim Seks dan Ragaula (2002), Sayap Anjing (Penerbit Buku Kompas, 2003), Children Sharpening the Knives (Masscom Media, 2003), dan Malam Sepasang Lampion (Penerbit Buku Kompas, 2004). Kumpulan cerpen terbarunya, Ular di Mangkuk Nabi (Gramedia Pustaka Utama, 2009) memperoleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa.
Banyak cerpennya masuk dalam Cerpen Kompas Pilihan dan Anugerah Sastra Pena Kencana. Pada 2005, 2007, dan 2009 mengikuti Utan Kayu International Literary Bienale. Ia tampil di Wordstorm: Northern Territory Writer Festival, Darwin (2005) dan Gang Festival, serta residensi sastra di Sydney, Australia (2008). Ia jadi pembicara di Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali (2008). Bersama Budi Darma, Eka Kurniawan, Nugroho Suksmanto, dan Chavchay Saifullah, ia menulis L.A. Underlover (Katakita, 2008), kumpulan cerpen tentang orang-orang Indonesia di Los Angeles.

UGORAN PRASAD,
Selain menulis fiksi untuk dan dalam berbagai medium, juga berminat pada ikhwal lintas disiplin seni dan studi-pertunjukan. Ia bekerja sebagai koordinator kajian di Teater Garasi, dan menjadi manajer program di Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Cerpennya, Ripin, mendapat penghargaan Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006. Sejak 1998, terlibat di beberapa karya kolaborasi seni visual dan menjadi kurator di beberapa festival seni lintas media. Di New York, sepanjang semester musim semi 2008, berkat fellowship dari Asian Cultural Council, ia menjadi visiting scholar di Performance Studies Department, Tisch School of The Arts, New York University. Sampai sekarang masih sebagai penulis lirik dan performer pada kelompok musik rock Melancholic Bitch.
(Dorothea Rosa Herliany/bolinks@2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th

Home | Mobile Version | Seni dan Budaya | Manusia Kreatif | Acara dan Berita | Festival 5 Gunung | Networking | Wisata
(c) 2013-2016 Modus Getar | Powered by Day Milovich