SEKOLAH MENDOET dan Sejarah Pemberdayaan Perempuan.

Borobudur Links | Maret 30, 2010 | 13.47 wib | Label: Tourism


Borobudurlinks, 30 maret 2010. Pada awal misi katholik di Jawa, layanan pendidikan lewat ‘Sekolah Guru Muntilan’ masih dikhususkan bagi kaum laki-laki. Berdasarkan pemikiran yang lebih luas dan demi perkembangan yang sempurna dalam kehidupan masyarakat, dipertimbangkan perlunya upaya pendidikan bagi kaum perempuan. Dalam hal ini suster-suster Tarekat Santo Fransiskus mendapatkan kepercayaan menanganinya. Hal ini wajar karena sampai saat itu terekat ini sudah menunjukkan karyanya di bidang yang sama di Semarang dan Magelang.

KETRAMPILAN TANGAN.

Pada tanggal 14 Januari 1908, datanglah di Mendut, sebuah desa di barat Muntilan kearah Borobudur, lima orang suster Fransiskanes untuk memulai karya mereka mengantar dan mengangkat harkat kaum perempuan lewat pelayanan pendidikan. Sebuah rumah kecil yang diberi nama ‘Nazareth’ dijadikan tempat tinggal para suster. Sarana yang serba sederhana tidak menjadi kendala dan mengecilkan semangat mereka.
Mulai tanggal 14 Februari 1908, para suster mulai memberikan pelajaran ketrampilan tangan kepada beberapa gadis Jawa. Dalam waktu singkat jumlah siswi semakin meningkat, bahkan beberapa datang dari jauh. Di antaranya berasal dari keluarga bangsawan: anak wedana Muntilan, dan dua putri dari Pura Pakualaman Jogyakarta.
Menyikapi perkembangan ini diperlukan pembenahan sarana, termasuk asrama bagi para siswi. Setahap demi setahap, asrama yang pada bulan Mei tahun 1908 hanya mampu menampung 2 siswi, pada bulan oktober tahun itu pula sudah bisa menampung hingga 10 siswi, dan pada tahun 1912 meningkat jadi 55 siswi. Para pejabat pemerintah mulai tertarik melihat perkembangan ‘Sekolah Mendut’, bahkan Gubernur Jenderal dari Jakarta sempat mengunjungi sekolah yang letaknya hanya 50 meter dari candi Mendut itu.
Minat memasukkan putri-putrinya di Sekolah Mendut ternyata datang tak hanya dari kalangan kaum Katholik saja. Mereka yang selama ini antipati terhadap Katholik, banyak yang mencoba memasukkan anak-anak mereka ke sekolah itu. Kemudian, dari mereka banyak yang, atas kemauan sendiri, menyatakan ingin menjadi Katholik. Pada 10 April 1908, bertepatan dengan perayaan paskah, ada 9 siswi yang dipermandikan.
Sekolah ‘formal’ yang kemudian dibuka adalah Sekolah Rakyat (SR) berbahasa Jawa dan Melayu, dan kemudian berkembang menggunakan pengantar bahasa Belanda. Dari SR ini dipersiapkan siswi yang akan mengikuti ujian sekolah guru Belanda (Kweekschool). Pada 26 Oktober 1913, diadakan ujian kweekelling (ujian guru) di Ungaran. Dari peserta sejumlah 236 orang, hanya diikuti 6 orang perempuan, semuanya berasal dari Sekolah Mendut.

Dari semua peserta ujian yang dinyatakan lulus 17 orang, 2 orang adalah siswi Mendut. Sebuah prestasi membanggakan. Pemerintah pun menghargai prestasi itu, dan kemudian tidak ragu-ragu memberikan subsidi untuk membangun sekolah baru. Kweekschool Mendut, yang merupakan kweekschool putri pertama di Indonesia, pun dibuka.
Perkembangan Kweekschool Mendut membuat pemerintah cemas dan takut menjadi saingan kweekschool yang dikelola pemerintah. Maka pemerintah minta agar Kweekschool Mendut diubah menjadi Noormaalschool (Sekolah Umum) dengan janji akan diberi tambahan subsidi. Anjuran ini justru diterima sebagai pemacu lajunya karya pendidikan di Mendut.
Selain Kweekschool dan Noormaalschool, dalam kurun lima windu, sekolah yang pernah didirikan suster-suster tarekat SOF di Mendut, antara lain: Frobel School (TK), HIS, HCS, Huishoudschool (SKKP), Mulo, HICK (Hollands Indische Chinee Kweekschool). Seiring dengan dibangunnya gedung-gedung aekolah juga dibangun dan diberkati rumah biara yang baru.
Kompleks Mendut eksis sebagai ‘kota di tengah desa’ dengan fasilitas lengkap untuk ukuran saat itu: listrik, air minum, Fransiscus Tuin (taman Fransiskus), mesin cuci raksasa, periuk yang dapat menanak nasi untuk 1500 porsi sekaligus, dll. Mendut juga menjadi tempat berkumpulnya putrid-putri dari seluruh Indonesia. Mereka datang dari Sumatera, Flores, Makasar, Ambon Menado, Sunda, dan daerah lainnya.

TRAGEDI.

Menjelang akhir tahun 1942, Jepang menyulut api peperangan di Asia Timur. Para suster ditawan dan Sekolah Mendut ditutup. Siswi-siswinya dipulangkan ke daerah asal. Sejarah bergulir hingga datanglah tragedy yang meluluh-lantakkan karya tarekat di Mendut.

Tahun 1948, sekelompok masyarakat melakukan bumi hangus dan menjarah kompleks pendidikan Mendut. Kemegahan kompleks pendidikan itu lenyap. Tak ada lagi Juffrow van Kesteren yang mendampingi ‘tuyul-tuyul’ berkecimpung ria di gemercik arus kali Elo. Gedung-gedung lenyap tanpa sisa, kecuali pintu gerbang yang menjadi saksi bisu kejayaan sekaligus kehancuran kompleks Sekolah Mendut.
Meski semua berlalu bersama tragedy sejarah, tapi api ‘semangat Mendut’ tak kunjung padam. Ikatan emosi para bekas siswi diwujudkan dalam temu kangen ‘Reuni Eks Siswi Mendut’, yang diadakan setiap dua tahun sekali. Majalah ‘Hallo Mendut’, yang tahun 1921 terbit dalam bahasa Belanda, dihidupkan kembali.
Tanggal 15 Juli 1995, para siswi eks Mendut mempersembahkan bangunan kapel yang didirikan di atas puing kapel di masa jaya Sekolah Mendut. Kapel yang dirancang Romo YB Mangunwidjaja itu diberi nama ‘Gereja Santa Maria Sapta Duka’.

Aan de over van de Elo
Staat het klooster van Mendoet
Daar zijn veel Javaanse meisjes
Door de zuster opgevoed……
(di pinggiran sungai Elo
Terletak asrama Mendoet
Di sana banyak gadis Jawa
Yang dididik para biarawati).

Lagu merdu kenangan kejayaan masa lalu itu kini tak terdengar lagi, namun api semangatnya terus berkobar membakar jiwa untuk senantiasa berkarya dan terus berkarya, karena teguhnya rasa percaya ‘Deus Providebit, Tuhan akan menyelenggarakan…’. (Disarikan oleh Mualim M Sukethi, dari buku ‘Bunga-Bunga Doa: 105 Tahun Paroki St.Ignatius Magelang’/bolinks@2010).

2 komentar:

  1. Terimakasih banyak telah menulis blog ini, yg mana telah memberikan informasi sejarah yg belum pernah saya ketahui sebelumnya.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, informasi ini sangat berarti untuk saya...

    BalasHapus
 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th

Home | Mobile Version | Seni dan Budaya | Manusia Kreatif | Acara dan Berita | Festival 5 Gunung | Networking | Wisata
(c) 2013-2016 Modus Getar | Powered by Day Milovich