TONGSENG JAMUR MBAK MARNI.

Borobudur Links | September 18, 2009 | 16.33 wib | Label: Tourism


Borobudurlinks/16-9-09. Mestinya ‘Wisata kuliner’ kali ini saya ingin menulis tentang ‘Warung Bakmi Pak Parno’ yang legendaries. Warung yang dibuka di rumah, yang terletak di belakang pasar Borobudur, itu sudah kondang sejak puluhan tahun lalu. Namun saya kecele. Ternyata warung itu tutup, libur lebaran. Dan baru buka seminggu sesudah lebaran.
Saya ditemani Ardi Gunawan, seniman serba bisa dari Magelang, kemudian menyusuri jalanan Borobudur mencari pilihan kuliner lain untuk berbuka puasa. Menyusuri jalanan Borobudur yang tak begitu panjang, saya menemukan beberapa warung tenda yang mencantumkan tongseng jamur sebagai menu pilihannya. Terdorong rasa penasaran terhadap tongseng jamur yang pernah ditayangkan sebuah stasiun TV ,saya memutuskan untuk mencoba menu itu.


Pilihan saya jatuh pada ‘Warung Makan mBak Marni’, yang terletak di jalan Pramudya Wardani, sekitar 100 meter dari pintu gerbang timur kawasan Candi Borobudur. Warung tenda itu tergolong luas dibanding warung tenda lainnya. Selain beberapa meja kursi panjang di dalam tenda, di emper toko samping warung juga tertata meja pendek dan tikar bagi penyuka lesehan. Suasana di dalam tenda juga nampak rapi dan bersih. Gerobak, meja kursi, dan tendanya sendiri didominasi warna hijau. Apakah warna ini ada hubungannya dengan menu jamur yang tergolong akrab lingkungan ?
Saat itu di dalam tenda sudah ada beberapa pembeli. Di antaranya dua pasang turis bule. Dari pembicaraan yang saya dengar turis-turis itu berasal dari Perancis. Sembari ngobrol dengan guide local yang menemaninya, mereka terlihat lahap menyantap hidangan yang tersaji, yang ternyata adalah tongseng jamur. Selain turis-turis itu terlihat beberapa pelanggan, baik yang menikmati makanan di situ juga, atau yang sekedar memesan makanan untuk dibawa ke tempat lain.
Kami memesan dua porsi tongseng jamur. Ternyata dibutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa menikmati pesanan itu. Mbak Marni yang memasak sendiri hanya dibantu seorang perempuan setengah baya untuk melayani. Sementara beberapa pembeli sudah antri sejak sebelum buka. Jadi kami termasuk pembeli ke sekian yang harus dilayani.
“Kalau puasa memang lebih rame dari hari biasa, mas. Mereka beli untuk buka puasa, “ kata mbak Marni (36 tahun) membuka percakapan sembari menaburkan racikan bumbu ke penggorengan. Perempuan yang masih terlihat muda itu dengan cekatan meracik berbagai menu yang dipesan pembeli. Oh ya, selain tongseng jamur, warung itu juga menyediakan tongseng ayam, nasi/mie goring/rebus, capcay, ayam dan lele goreng/bakar, serta berbagi minuman panas/dingin.
Selain cekatan meracik bumbu, mBak Marni juga tangkas melayani obrolan dengan para pembeli. Rupanya sebagian pembeli adalah orang-orang yang sudah lama menjadi langganannya. Karena Borobudur hanyalah kota kecil mereka jadi saling kenal dengan akrab.
Mbak Marni membuka warung ini sejak lebih sepuluh tahun lalu. Sementara menu jamur baru disajikannya sejak lima tahun lalu. Kok tertarik dengan jamur mbak ? “Sebagai orang yang hobi masak, saya selalu mencoba menu-menu baru. Termasuk jamur ini. Ternyata banyak yang suka, ” kata mBak Marni menjelaskan sejarah warungnya. “Dulu pakai jamur trucuk, yang warnanya hitam. Tapi pelanggan lebih suka jamur tiram ini. Bumbunya lebih meresap,” tambahnya diiringi senyum manis.

Tidak lama kemudian dua porsi tongseng jamur dan satu setengah piring nasi tersaji di hadapan kami. Tanpa menunggu lama, karena memang sudah lapar, kami langsung menyantap sajian itu. Kesan pertama yang terasa di lidah adalah kelembutan jamur itu. Jamur tiram yang sudah di suwir-suwir (potong tipis pendek) itu bercampur dengan suwiran daging ayam. Yang membedakan antara jamur dan daging ayam, ya pada kelembutannya itu. Jelas jamur lebih lembut daripada daging ayam yang menjadi campurannya.
Karena dicampur dengan daging ayam maka jamur itu pun rasanya jadi mirip daging ayam. Itulah kelebihan jamur, rasa aslinya yang netral serta seratnya yang lembut, membuat sayuran itu mampu menyerap bumbu dan rasa dari bahan pencampurnya. Kalau dimasak tongseng ayam, ya menjadi mirip tongseng ayam. Kalau dimasak rawon, saya yakin rasanya kan menyesuaikan dengan citarasa masakan Jawa Timur itu.
Tongseng racikan mbak Marni rasanya tidak jauh berbeda dengan tongseng lainnya, yakni perpaduan antara gurih rempah-rempah yang terdiri bawang merah/putih, ketumbar, biji pala, daun jeruk, salam, kecap, dan pedas cabe rawit. Yang membedakan, racikan mBak Marni tidak menmggunakan campuran daun kol dan tomat. Jadi murni rasa jamur dan ayam. Kelebihan lain adalah rasa segar dari sayur yang kaya protein itu.
“Saya membeli jamur bukan dari tukang sayur di pasar, tapi langsung di petaninya, “ kata ibu yang tinggal di dusun Janan, sebelah utara candi Borobudur itu. “Selain lebih murah jamurnya juga lebih segar”. Cabe rawit yang digunakan juga tergolong yang berkualitas. Ibu itu memamerkan kantong plastic berisi cabe rawit merah berukuran besar yang nampak segar merangsang.
Dalam semalam, warung itu buka mulai jam 17.00 – 24.00, sekitar 30 hingga 50 porsi tongseng jamur terjual. Dengan harga 10 ribu rupiah, termasuk nasi, maka dari tongseng jamur mbak Marni menangguk hasil sekitar 300-500 ribu rupiah. Belum lagi dari menu yang lain, yang juga lumayan laris. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bisa didapat dari bisnis warung kaki lima ini.
“Alhamdulillah mas, dari hasil warung ini bisa membantu ekonomi keluarga. Dari sinilah saya bisa menyekolahkan anak-anak saya, “ kata ibu dua anak itu. Anaknya yang sulung kini kuliah di sebuah PTN di Jogyakarta, sementara yang bungsu baru kelas 1 SD. Suaminya sendiri adalah karyawan Candi Borobudur.
Selain warga setempat, beberapa pejabat dari Magelang dan Semarang seringkali mampir ke warung mBak Marni. Bahkan banyak turis asing yang menggemari masakan jamur itu. Pada umumnya mereka menyenangi jamur karena kandungan gizi sayuran ini. Seperti diketahui, jamur kaya protein & kalori, mengandung berbagai vitamin (B1;B2;B3 dan B7), serta kalium, kalsium, dan fosfor. Manfaatnya bagi kesehatan adalah menurunkan kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, melancarkan peredaran darah, mengatasi gangguan pencernaan, serta mengandung anti-oksidan.
“Saya dulu penggemar tongseng kambing. Tapi kini beralih ke tongseng jamur. Karena daging kambing beresiko darah tinggi. Jamur sebaliknya, menyehatkan karena menurunkan kolesterol, “ kata Pak Umar (50 tahun), pelanggan setia warung Mbak Marni. Hemm…cleguk. (Maulim M Sukethi/bolinks 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th

Home | Mobile Version | Seni dan Budaya | Manusia Kreatif | Acara dan Berita | Festival 5 Gunung | Networking | Wisata
(c) 2013-2016 Modus Getar | Powered by Day Milovich