'SUMPAH DEWABRATA', Refleksi Utamakan Kepentingan Umum.

Borobudur Links | Mei 29, 2011 | 13.41 wib | Label: art and culture


Borobudurlinks, 28 Mei 2011. Performa "Sumpah Dewabrata" oleh seniman petani Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, di lereng barat Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merefleksikan pentingnya masyarakat mengutamakan kepentingan umum daripada pribadi atau kelompok. Mereka menggelar performa itu di gedung yang oleh masyarakat dinamai Gubug Selo Merapi (GSPi), di Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, utara alur Kali Senowo, Sabtu (28/5) malam, saat melepas kepindahan tugas Kepala Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Romo V. Kirjito, ke Paroki Kebon Arum, Kabupaten Klaten.
Performa itu, kata pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, Desa Sumber, Sitras Anjilin, mengutip kisah pewayangan tentang Negeri Astina. "Dewabrata tidak mementingkan dirinya sendiri meskipun sebagai pewaris utama tahta Astina, tetapi memutuskan hidup 'wadat', sehingga bisa berguna bagi lebih banyak orang," katanya.
Seniman petani setempat yang mengenakan pakaian wayang orang itu memainkan performa dalam iringan tabuhan gong dan drum dengan ditonton terutama masyarakat sekitar GSPi.
Ia mengatakan, perkembangan zaman saat ini mendorong orang cenderung mementingkan kepentingan sendiri. "Sikap-sikap itu harus dikoreksi supaya kebersamaan sebagai warga masyarakat, bangsa, dan negara tetap kuat. Orang tidak bisa hidup sendiri tetapi harus lebih mengutamakan kepentingan umum yang lebih besar," katanya.
Ia mengatakan, Romo Kirjito selama 11 tahun bertugas memimpin umat Katolik di kawasan itu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat secara luas. "Banyak karya Romo Kirjito di sini, bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi juga untuk masyarakat umum. Kita semua bersyukur karena Gusti membolehkan Romo Kirjito berkarya di sini dengan mengutamakan kepentingan kemanusiaan," katanya.
Ketua Dewan Paroki Sumber, Sutar, mengatakan, Romo Kirjito mengembangkan pastoral budaya di tempat itu sehingga membuat masyarakat umum bahagia. "Membangun persaudaraan, menjadikan masyarakat rukun," katanya.
Sekretaris Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Marwoto, pada kesempatan itu menyampaikan pengalaman masyarakat setempat membangun jembatan penghubung antardesa setempat setelah mendapat bantuan dari Romo Kirjito. "Romo Kirjito mempunyai pemikiran yang lebih tinggi, mementingkan kepada masyarakat, punya jiwa seni tinggi, seperti saya yang beda agama, juga merasa dekat dengan beliau. Jembatan itu bukan hanya jalur antardesa tetapi juga jalur evakuasi warga saat Merapi meletus," katanya.
Pada kesempatan itu masyarakat setempat juga menyaksikan pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Narwoko Hadi Widodo berasal dari Temanggung dengan lakon "Dumadining Keraton Amarta". Komunitas setempat juga meluncurkan buku berjudul "Kriwikan Tuk Mancur, Kenangan 11 Tahun Hidup Menggembala Romo Vincentius Kirjito, Pr. Ing Ereng-Erenging Redi Merapi". Buku setebal 212 halaman itu berupa kumpulan sekitar 80 tulisan anggota komunitas setempat yang umumnya petani holtikultura tersebut tentang catatan kesan mereka terhadap Romo Kirjito selama 11 tahun terakhir.
Jabatan Romo Kirjito yang juga peraih Maarif Award 2010, penghargaan untuk ketokohan seseorang atas pemberdayaan komunitas yang dikeluarkan Maarif Institute Jakarta, sebagai Kepala Paroki Sumber digantikan oleh Romo Luhur Prihadi yang sebelumnya bertugas di Gereja Tanah Mas Kota Semarang (ANTARA Jateng.Com/ M Hari Atmoko).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th

Home | Mobile Version | Seni dan Budaya | Manusia Kreatif | Acara dan Berita | Festival 5 Gunung | Networking | Wisata
(c) 2013-2016 Modus Getar | Powered by Day Milovich