KRIS BIANTORO: Peran Saya Dulu Jadi Pangon.

Borobudur Links | Maret 30, 2010 | 23.55 wib | Label: creative people


Borobudurlinks, 31 Maret 2010. Kris Biantoro, dalam jagad hiburan di tanah air menduduki tempat khusus. Pria yang bernama lengkap Christophoroes Soebiantoro, ini adalah seorang penyanyi handal, actor film mumpuni, pelawak piawai, serta master of ceremony (MC) yang legendaries. Penghibur yang di masa tuanya masih tergolong produktif itu melewati masa kecil hingga remaja di kota Magelang.
Sebagian masa-masa di kota gethuk itu dilewatinya di lingkungan gereja St.Ignatius.
"Saya resmi diterima sebagai warga Gereja pada saat dipermandikan oleh Rama Richardus Sandjaja Pr pada tanggal 27 Maret 1948, setelah tak kurang dari hampir dua tahun mengikuti pelajaran agama., “ kata pria yang lahir di Magelang pada tanggal 17 Maret 1938, ini mengawali perbincangan.
Saat itu pelajaran agama diberikan oleh Romo Th. Hardjowasito Pr dengan pengantar bahasa Jawa. “Wah..., sukarnya bukan main, karena bahasa Jawa mengenal tiga tingkatan yakni bahasa ngoko, kromo alus, dan kromo inggil”.
Sebelum dibaptis Kris kecil sudah biasa membantu pekerjaan Ba¬pak Koster, seperti membersihkan Sakristi. Yang paling me¬nyenangkan bagi bagi Kris adalah bila mendapat tugas membunyikan lonceng gereja pada saat jam 12.00' siang.
“Kebetulan saya bersekolah di SD Kanisius Pendowo, dan jam 12.00' sekolah sudah usai. Menara lonceng yang letaknya di belakang Gereja, pada puncaknya diberi atap untuk melindungi lonceng.. Sementara menarik tambang lonceng, konsentrasi doaku terganggu oleh pemandangan di puncak menara : burung-burung gelatik yang banyak bersarang di situ. Sarang burung itu saya gogohi untuk mengambil piyiknya (anak burung), kalau ada,” kata pria yang beristrikan Maria Nguyen Kim Dung, seorang wanita Vietnam, itu sembari terkekeh.
Sebelum Kris dibaptis, di gereja yang terletak di jalan Yos Sudarso itu sempat terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Seluruh penghuni Pasturan yang berjumlah 10 orang, terdiri dari 5 Pastor, 2 Frater, 2 Bruder, dan seorang koster, diculik oleh sekelompok pemuda dan dibunuh secara kejam di kuburan Giriloyo. Setelah peristiwa pembantaian itu, tak ada umat yang berani datang ke Pasturan.
Bagaimana pun keadaan itu tak boleh dibiarkan begitu saja. Maka diadakan tugas jaga malam dengan menggunakan ruang AMKRI (Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia) sebagai pos komandonya. “Walau umur saya belum genap 10 tahun, saya sering diajak kakak saya, AJ Soenarto (almarhum), untuk ikut berjaga malam. Bila rasa kantuk sudah tak tertahankan lagi saya tidur di bawah kolong tempat tidur di salah satu kamar Pasturan. Konon di tempat tidur itulah Romo J.F.E. Versteegh SJ dibantai, “ kenang Kris dengan muka muram.

BANGUNAN YANG MEMANCARKAN RASA TEDUH.

Setelah 60 tahun berlalu, Kris Biantoro merasa sangat masgul melihat bangunan phisik Gereja St. Ignatius sekarang, yang sudah berubah total dari bentuk bangunan aslinya. “Di masa. kecil dan remaja saya, bentuk phisik bangunan gereja yang bergaya Gothik, sungguh sangat cantik. Jendela dengan hiasan mozaik kaca-kaca gelas berwarna-warni, memunculkan nuansa indah di saat tertimpa sinar matahari, “ kenang Kris.

Penataan interior ruangan seputar altar menimbulkan kesan megah, anggun, dan berwibawa, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Tuhan yang bertahta di sana. Ada mimbar yang dibuat agak tinggi, tempat Romo menyampaikan kotbah, sehingga saat berkotbah Romo dapat memperhatikan setiap umat yang hadir, demikian pun sebaliknya. Kotbah selalu diberikan dalam bahasa Jawa, meskipun oleh Romo yang berasal dari Negeri Belanda. Halaman antara Gedung Gereja dan Pasturan ditanami potion kelapa sawit yang tumbuh subur dan berbuah lebat, berjajar rapih dari depan sampai ke halaman Sakristi. Di bawah tangga menuju Sakristi dipasang papan untuk menempelkan pengumuman paroki. Namun yang selalu tertempel adalah corat-coret karikatur buatan Mas Bilyarto (yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Romo YB Mangunwidjaja Pr).
Bangunan induk pasturan yang ada sekarang nampak masih seperti limapuluh tahun yang lalu, hanya pohon-pohon pala yang dulu tumbuh subur di sana sudah tak ada lagi. “Pohon-pohon pala berbuah lebat itulah yang menjadi "setan" (penggoda) bagi saya selama proses pelajaran agama persiapan baptis. Pelajaran saya menjadi kethetheran (ketinggalan-Pen) karena saya sering absen hanya untuk nyolong buah pala yang begitu menggoda, dan mencari telur atau anak burung emprit (pipit) yang bersarang di situ, “ papar ayah dua anak itu sembari tersenyum mengenang kenakalan masa kecilnya.
Di samping pasturan terdapat gedung pertemuan Panti Mandala. Di situlah Natal dan Paskah dirayakan secara serimonial. “Di Panti Mandala pula untuk pertama kali saya berkenalan dan terjun ke dunia panggung, bermain dalam Sandiwara Natal dengan mengambil peran sebagai .... pangon (gembala domba)., “ lanjut Kris.

KEHIDUPAN MENGGEREJA.

Kris Biantoro, yang sempat bermain dalam puluhan film layar lebar,itu merasakan kesadaran umat dalam kehidupan bergereja waktu itu (sekitar tahun 1948) sungguh dapat dibanggakan, khususnya dalam hal kegiatan ritual. Perayaan Ekaristi hari Minggu dilaksanakan tiga kali. Misa I pukul 05.30', Misa II pukul 08.00', dan Misa III dilaksanakan pada sore hari. Saat itu, umat yang mengikuti Misa II (apalagi Misa Minggu sore), dianggap orang yang malas.
“Dulu belum banyak yang punya sepeda motor, apalagi mobil, paling banter ya sepeda onthel, itu pun bisa dihitung dengan jari. Maka tak mengherankan kalau persiapan mengikuti Misa Minggu dilakukan mulai jam 04.00' pagi, “ papar Kris tentang jalannya misa saat itu. Saat berlangsung Misa Pagi, tidak jarang ada misdinar (Putra Altar) yang pingsan sewaktu melaksanakan tugas. Bukan disebabkan karena sakit, tetapi karena lapar dan masuk angin. Itu disebabkan karena mereka (para Putra Altar) begitu setia mentaati peraturan Gereja saat itu, dimana sehari semalam selama 24 jam menjelang menerima komuni tidak boleh makan atau minum, biar pun hanya air putih.
Ada perbedaan mencolok dalam hal perayaan Natal dan Paskah antara waktu dulu dan sekarang. Dulu, kedua perayaan ini selalu dimulai tepat pukul 12.00 tengah malam. Karena perayaan Ekaristi diselenggarakan tiga kali berturut-turut, maka upacara yang ketiga selalu berakhir pada menjelang pukul 06.00 pagi.
“Seusai misa, tangan-tangan saling terulur dengan mengucapkan Sugeng Paskah atau Sugeng Kersmis. Belum ada istilah atau ucapan yang mengatakan Selamat Natal. Suasana yang bernuansa budaya Jawa sungguh nampak kental, “ ungkap Kris yang belum hilang kemedokan-jawanya.
Satu perbedaan lagi adalah adanya Pohon Natal. Kris mengenang: “Sampai dengan saat saya meninggalkan Magelang, Pohon Natal tidak pernah ada atau dipasang di dalam Gereja. Entah kebiasaan pemasangan Pohon Natal itu dimulai sejak kapan”.
Keinginan umat untuk mendapatkan tempat duduk di bangku terdepan dalam Upacara Ekaristi (bukan hanya untuk Natal dan Paskah saja) sungguh nampak pada saat itu. Orang ingin lebih dekat dengan altar Tuhan. “Namun sayang bahwa niat baik ini berdampak yang kurang baik dalam kebersamaan. Karena ingin selalu mendapat tempat duduk di depan, maka beberapa bangku di deretan tersebut bisa dipesan atau menjadi tempat duduk tetap dengan cara berlangganan atau abonemen, “ papar pelantun lagu ‘Dondong Opo Salak’ yang abadi itu.
Caranya ? “Dengan menyetorkan sejumlah uang, si Anu atau Keluarga Anu akan selalu mendapatkan tempat duduk yang seakan-akan menjadi haknya, walaupun datang terlambat. Dan bila orang tersebut tidak mengikuti Upacara Misa, tak akan ada orang yang berani menempati bangku-bangku kosong tersebut, karena di situ sudah diberi label nama orang yang berhak,” urai Kris dengan nada prihatin.
Menurut kakek dua cucu ini, hal itu sungguh tidak sesuai dengan hakekat iman Kristiani karena berakibat timbulnya kesenjangan. “Maka pada sekitar tahun 1960, atas prakarsa para pemuda yang menentang dengan keras, kebiasaan itu dihapus, sehingga semenjak itu tak ada lagi nama-nama pribadi atau keluarga yang menempel di deret depan, “ tegas Kris menutup kenangannya tentang gereja St.Ignatius (Disarikan dari buku ‘Bunga-Bunga Doa’ 105 Tahun Gereja St.Ignatius. Di susun dalam bentuk wawancara oleh Mualim M Sukethi/bolinks@2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th

Home | Mobile Version | Seni dan Budaya | Manusia Kreatif | Acara dan Berita | Festival 5 Gunung | Networking | Wisata
(c) 2013-2016 Modus Getar | Powered by Day Milovich