Halaman

Agustus 03, 2012

PARIWISATA PILAR EKONOMI MASADEPAN.




Oleh Djauhari Oratmangun *).

Borobudurlinks, 1 Agustus 2012. Pertemuan tingkat menteri bidang pariwisata APEC di Khabarovsk (24/7/12), kota paling timur Rusia menyisakan sebuah renungan baru. Indonesia harus segera menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi bangsa. Dalam persaingan sektor ini berlaku sebuah pepatah: siapa cepat ia akan dapat.
Perdagangan dan investasi memang senantiasa menjadi dua sektor pendulang pendapatan negara, namun signifikansi pariwisata sangat perlu diperhatikan dengan seksama. Dalam sepuluh tahun terakhir, sektor pariwisata semakin mengokohkan dirinya menjadi salah satu peraup devisa yang sangat penting di negara-negara Asia Pasifik. Hal itu antara lain disebabkan oleh sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah: pariwisata telah menjadi kebutuhan primer masyarakat maju.
Dalam catatan World Travel and Tourism Council misalnya, selama kurun waktu tahun 2010, ke-21 ekonomi APEC telah menarik 40 persen seluruh wisatawan dunia. Selain itu, warga ekonomi APEC dalam waktu yang sama menyumbang 40 persen wisatawan dunia. Ekonomi yang stabil, tingkat kenaikan pendapatan masyarakat serta perbaikan infrastuktur di wilayah APEC menjadi dasar peningkatan sektor turisme tersebut.
Di tahun 2011, sektor perjalanan dan wisata (travel & tourism) akan memberikan sumbangan devisa sebanyak 8,3 persen dari seluruh GDP, atau senilai 3,22 triliun dolar AS. Diperkirakan, dalam waktu sepuluh tahun kedepan, wisatawan dari ekonomi APEC akan tumbuh rata-rata sebanyak 4,7 persen setahun dan itu akan merupakan 3,9 persen dari seluruh ekspor APEC, atau pada kisaran 750 miliar dolar AS. Jadi, pariwisata telah menjadi 'komoditi ekspor' utama APEC
Dipastikan, persaingan untuk meraup wisatawan akan terus meningkat dari waktu ke waktu sebab kesadaran setiap negara tentang pentingnya pariwisata sebagai pilar pembangunan ekonomi semakin meningkat. Lihat saja tayangan 'iklan' di berbagai media elektronik global untuk mendagangkan kesiapan sektor pariwisatanya dalam rangka meraup devisa wisatawan mancanegara. Tidak mengherankan kalau bisnis yang terkait dengan wisatawan semakin marak dan booming di ekonomi APEC. Tengok saja perkembangan dari industri hotel, agen perjalanan, maskapai penerbangan hingga restoran dan tempat-tempat hiburan.
Maklumlah, tahun lalu saja sektor perjalanan dan wisata di ekonomi APEC ini telah mampu menyedot 120 juta pekerja, atau merupakan 8,4 persen dari seluruh pekerja di wilayah Asia Pasifik. Sebuah angka yang cukup fantastis dan lahan yang amat basah bagi penciptaan lapangan pekerjaan.
Sebenarnya perkembangan sektor pariwisata itu sangat mudah didentifikasi dengan mata yang telanjang. Sekarang, siapapun yang bepergian ke tujuan wisata utama di negara-negara Asia Pasifik, tidak hanya bertemu dengan orang Jepang atau Korea yang dikenal senang berwisata tetapi juga wisatawan Tiongkok sudah berkelana ke seluruh dunia dan hadir dengan kantong yang cukup tebal. Di China sendiri, jutaan wisatawan dari berbagai negara datang dengan segala kemudahan transportasi, terjangkaunya tarif hotel hingga pelayanan yang prima. Mau servis yang harga mahal hingga murah semua tersedia.
Bukan hanya itu, dua dekade lalu, pergi ke negara jiran Malaysia dan Singapura bagi warga kita merupakan impian. Sekali bertandang bisa menjadi bahan perbincangan selama 10 tahun. Namun kini, banyak sekali WNI yang berkunjung ke Singapura hanya untuk berbelanja dan melakukannya sebulan sekali. Penerbangan yang murah serta bebasnya pajak fiskal bandara serta terjangkaunya tarif hotel di tempat tujuan menjadikan wisata ini semakin menarik. Wisatawan yang paling banyak alias jawara nomor satu ke Singapura adalah WNI.
Bagi Rusia sendiri, negara yang sebenarnya relatif baru terbuka dalam satu dekade belakangan, melancong merupakan sebuah kebutuhan dan prestis. Dalam setahun, sekitar 30 juta warganya melancong ke berbagai belahan dunia untuk melihat dan menikmati kehidupan baru. Setiap tahun tidak kurang 2 juta warganya pasti bertamasya ke Mesir, 2,5 juta ke Turki, 300 ribu ke Thailand, dan sekitar 100 ribu ke Indonesia. Pantai dan alam yang indah merupakan tujuan utama dan menjadi mimpi-mimpi mereka setiap malam.
Bukan hanya itu, kini tempat-tempat wisata utama dunia sudah mulai mengalami pergeseran. Wisata tidak melulu melihat sesuatu yang bersifat kuno seperti piramid dan gereja St. Basil atau barang antik sebagaimana menara Eiffel. Wisatawan sekarang sudah menyasar pada hal-hal yang dulu dianggap tidak eksotik seperti bekelana di hutan, menaklukkan gunung, atau mencicipi kulineri yang sama sekali asing di lidah mereka. Semakin tidak diketahui, semakin asyik merasakannya. Sifat manusia sebagai makhluk ingin serba tahu akan hal-hal baru semakin menonjol.
Pertanyaannya adalah: di mana Indonesia sekarang dan apakah langkah-langkah kita sudah cukup untuk dapat bersaing dalam dunia pariwisata yang semakin ketat ini? Kalau dilihat dari sisi statistik pendapatan, sektor pariwisata memang sudah nongkrong di tempat cukup terhormat. Sejak tahun 2008, sektor ini merupakan pengeruk devisa nomor empat atau lima setelah minyak dan gas, kelapa sawit, batubara dan karet. Tahun 2009 misalnya, pendapatan sektor ini sebesar 6,3 miliar dolar dan tahun berikutnya 7,6 miliar dolar. Devisa dari pariwisata di atas garmen, barang-barang elektrik, tekstil, pulp and paper, makanan, kayu dan barang-barang kimia.
Khusus tahun 2011 yang lalu, kunjungan turis asing ke Indonesia berjumlah 7,6 juta dan diperkirakan telah memberikan kontribusi pendapatan negara sebanyak 8,5 miliar dolar. Sedangkan target pada 2012 sebanyak 8 juta turis dan 2015 sebesar 10,5 juta turis asing. Mereka berkunjung ke Indonesia utamanya untuk melihat alam, budaya, berpetualangan dan wisata pantai.
Dari data yang ada menunjukkan beberapa negara memiliki prospek yang sangat besar dalam memberikan kontribusi pendapatan nasional. Wisatawan Tiongkok misalnya, tahun lalu meningkat hampir 40 persen, dari Timur Tengah bertambah 20 persen, dari India sebesar 11 persen, dari Rusia naik 5 persen dan Jepang melonjak 4 persen. Data-data ini semata-mata hanya menunjukkan bahwa di antara ekonomi APEC peningkatan wisatawan sangat cepat dan Indonesia memiliki peluang untuk maraupnya di masa-masa mendatang.
Kalau ditelaah lebih jauh, maka sebenarnya perkembangan pariwisata Indonesia masih perlu dipacu agar sebanding dengan perkembangan wisata internasional, khususnya ekonomi APEC. Selama kurun waktu 2004 hingga 2010, kontribusi sektor turisme terhadap GDP nasional pada kisaran 3 persen saja. Tertinggi pada tahun 2004 sebesar 3,8 persen dan terendah pada tahun 2010 sebesar 3,05 persen. Meskipun angka ini tidak merepresentasikan turunnya nilai raupan dolar, namun tetap saja belum sejalan dengan pertumbuhan di ekonomi APEC yang telah mencapai 8,3 persen (2011).
Hal yang layaknya perlu menjadi perhatian bersama adalah mengenai infrastuktur dan servis dunia kepariwisataan. Dalam pandangan saya, tujuan wisata yang tidak terlalu elok namun memiliki infrastruktur dan jasa penunjang yang memadai maka akan mendatangkan turis lebih banyak dibanding tempat wisata indah namun miskin infrastuktur. Di ASEAN misalnya, Angkor Watt bisa dikunjungi sekitar 1,5 juta wisatawan asing pertahun sedangkan Borobudur yang notabene jauh lebih elok dan memikat tertatih-tatih mengejar angka tersebut. Pantai Huahin di Thailand disesaki oleh ratusan ribu turis mancanegara per tahun, sedangkan pantai Natsepa di teluk Ambon yang butiran pasirnya begitu bercahaya kurang dilirik oleh wisatawan asing.
Indonesia adalah salah satu negeri yang diberi anugerah keelokan alam, budaya dan perilaku masyarakatnya merupakan daya tarik tanpa batas bagi bangsa lain untuk menikmatinya. Namun mengingat infrastuktur, jasa dan mungkin sense of ownership masyarakat yang belum optimal maka jumlah turis ke Indonesia bisa jadi kalah dengan beberapa negara kecil dengan warga sangat sedikit dengan alam tak seindah Indonesia. Kesadaran bahwa pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi bangsa harus segera dibangun oleh pemerintah, masyarakat madani dan seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut memang perlu ongkos yang tidak sedikit, atau dalam pepatah Jawa Jer Basuki Mowo Beo alias tidak ada gratisan. Tapi apa sih yang tidak bisa kalau ada kesungguhan? Semua sangat tergantung kita. Dengan niat yang kuat, planning yang baik dan eksekusi yang fokus maka menjadikan pariwisata sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi bangsa adalah sebuah keniscayaan.
Ingat, Indonesia dengan alam yang begitu indah di katulistiwa adalah 'zamrud' yang dianugerahkan Tuhan YME kepada bangsa. Gurauan bahwa Tuhan 'tersenyum' sewaktu menciptakan alam Indonesia mungkin ada benarnya. Untuk itu merupakan sebuah amanah untuk memikat warga dunia 'tersenyum' saat berkunjung ke 'Zamrud Katulistiwa' sehingga kantong mereka bocor dan bekontribusi bagi devisa negara. Inilah yang disebut 'tourism economy'. Inilah saatnya, jangan ditunda lagi ( detikNews).
.

*) Djauhari Oratmangun adalah alumnus FE UGM dan kini sebagai Dubes LBBP untuk Rusia dan Belarusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar